- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 1 SPMB SMKI ASSALA...
- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 3 dan 4 PPDB SMKI ...
- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 2 PPDB SMKI ASSALAM...
- PENGUMUMAN HASIL TES INTERVIEW GELOMBANG 1 SMKI ASSALAM JAMB...
- PPDB tahun ajaran 2025/2026 telah dibuka....
- PENGUMUMAN HASIL INTERVIEW TES PPDB GELOMBANG 3 SMK ISLAM AS...
- PENGUMUMAN HASIL INTERVIEW TES PPDB GELOMBANG 2 SMK ISLAM AS...
- ASSALAM BERSHOLAWAT bersama Habib JA'FAR BIN UTSMAN AL-JUFRI...
- (UPDATE) PENGUMUMAN HASIL SELEKSI INTERVIEW PPDB GELOMBANG 1...
- PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PENERIMAAN CALON SISWA BARU GELOMB...
Mendikbud Akselerasi Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah Juli 2021
Penulis Albertus Adit | Editor Albertus Adit
Dilansir dari KOMPAS.com - Selama satu tahun pandemi Covid-19,
masih banyak siswa yang mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ). Tentu, lamanya
PJJ itu akan berdampak negatif pada siswa.
Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Nadiem Makarim menilai, PJJ ini dapat berpotensi menimbulkan dampak sosial
negatif yang berkepanjangan.
Risiko siswa mengalami putus sekolah juga akan meningkat,
karena anak terpaksa membantu keuangan keluarga ditengah krisis pandemi.
Tak hanya itu saja, dampak lainnya ialah adanya penurunan
capaian belajar, kekerasan kepada anak, dan risiko eksternal lainnya.
Hal itu diungkapkan Mendikbud Nadiem Makariem
dalam Rapat Kerja bersama Komisi X DPR RI di Gedung Nusantara I, Senayan,
Jakarta, Kamis (18/3/2021).
Tentu, dalam rapat kerja itu untuk membahas
sejumlah isu krusial di dunia pendidikan, salah satunya terkait persiapan
pembelajaran tatap muka (PTM) pada Juli 2021 mendatang.
Selain itu, rapat juga membahas mengenai rencana
pemerintah untuk memberikan vaksinasi guru, asesmen nasional, serta penerimaan
peserta didik baru.
PTM bisa diakselerasi
Dijelaskan Nadiem, sejak Januari 2021, penentuan PTM secara terbatas merupakan hak prerogatif pemda. Pada awal tahun sudah diperbolehkan PTM secara terbatas.
"Bagi orang tua yang tidak menginginkan anaknya tatap
muka itu keputusan mereka untuk anaknya masih di rumah, ujung-ujungnya
keputusan itu ada di orang tua. Tapi saat guru sudah divaksinasi, sekolah wajib
memberikan opsi tatap muka terbatas," ungkap Nadiem seperti dikutip dari
laman DPR RI.
Hal itu tentu mengacu pada ketentuan PTM yakni
untuk daerah yang termasuk zona hijau dan kuning dari sebaran Covid-19 sudah
diperbolehkan untuk menggelar PTM.
Namun hingga saat ini di zona hijau hanya 56
persen yang melaksanakan pembelajaran tatap muka dan pada zona kuning baru 28
persen yang melakukan kegiatan belajar mengajar secara langsung. Untuk itu,
pembukaan sekolah tergantung pada keputusan pemda masing-masing.
Meski demikian, dengan adanya program vaksinasi ini,
Mendikbud menegaskan bahwa pihaknya berupaya agar PTM di sekolah bisa
diakselerasi.
"Learning loss yang sifatnya permanen itu akan terus
terjadi jika kita tidak segera melakukan tatap muka. Kebijakan ini bertujuan
untuk mengakselerasi proses pembelajaran tatap muka di Indonesia," terang
Nadiem.
"Kenyataannya hanya 16 persen yang melakukan
pembelajaran tatap muka dan 84 persen sisanya PJJ. Ini harus naik cepat,
makanya dengan vaksinasi pendidik dan tenaga pendidikan kita akselerasi PTM di
sekolah," tegas Mendikbud.
Komisi X dukung Mendikbud
Sementara Wakil
Ketua Komisi X DPR RI Agustina Wilujeng Pramestuti menyambut baik rencana
pemerintah untuk membuka kembali proses belajar-mengajar secara tatap muka.
Meski demikian, proses pembelajaran tersebut tetap harus dilakukan dengan hati-hati mengingat pandemi Covid-19 masih terus berlangsung.
Untuk itu pihak penyelenggara pendidikan harus
benar-benar memastikan protokol kesehatan seperti memakai masker, menjaga jarak
dan membatasi jumlah siswa hingga pemberlakuan sistem shift harus tetap
dilaksanakan.
"Komisi X semua mendukung, terutama apa dari
agenda yang dipaparkan Mas Menteri semuanya positif dan kita dukung, terutama
pembukaan sekolah tatap muka," terang Agustina.
Yayasan Pendidikan Islam Assalam