- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 1 SPMB SMKI ASSALA...
- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 3 dan 4 PPDB SMKI ...
- Pengumuman Hasil Tes Interview Gelombang 2 PPDB SMKI ASSALAM...
- PENGUMUMAN HASIL TES INTERVIEW GELOMBANG 1 SMKI ASSALAM JAMB...
- PPDB tahun ajaran 2025/2026 telah dibuka....
- PENGUMUMAN HASIL INTERVIEW TES PPDB GELOMBANG 3 SMK ISLAM AS...
- PENGUMUMAN HASIL INTERVIEW TES PPDB GELOMBANG 2 SMK ISLAM AS...
- ASSALAM BERSHOLAWAT bersama Habib JA'FAR BIN UTSMAN AL-JUFRI...
- (UPDATE) PENGUMUMAN HASIL SELEKSI INTERVIEW PPDB GELOMBANG 1...
- PENGUMUMAN HASIL SELEKSI PENERIMAAN CALON SISWA BARU GELOMB...
Kiat Sukses Pembelajaran Produktif pada Era Pandemi COVID-19
Oleh Dr. Arie Wibowo Khurniawan, S.Si, M.Ak
Dilansir dari smk.kemdikbud.go.id – Salah satu
tantangan tebesar yang dihadapi Bangsa Indonesia adalah produktivitas sumber
daya manusia (SDM). Bangsa yang unggul dilihat dari tingginya tingkat produktivitas
SDMnya. Merujuk pada data yang diterbitkan oleh Asian Productivity Organization
(APO) dalam APO Productivity Data Book 2020 seperti yang ditunjukkan pada
grafik di bawah ini, diketahui bahwa posisi produktivitas per pekerja Indonesia
masih tertinggal jauh dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia. Bahkan lebih
buruk lagi bahwa produktivitas per pekerja Indonesia berada di bawah rata-rata
tingkat produktivitas tenaga kerja 6 negara ASEAN terbesar.
Produktivitas tenaga pekerja Indonesia
hanya seperlima dari Singapura, dimana produktivitas Singapura berada pada
peringkat pertama di antara negara-negara ASEAN. Produktivitas per pekerja
Indonesia hanya berkisar USD23.900. Hal tersebut hanya seperlima dari Singapura
yang berada di peringkat pertama dengan produktivitas per pekerja sebesar
USD149.100. Selain itu tenaga kerja Indonesia masih terpaut jauh dari Malaysia
dengan produktivitas per pekerja sebesar USD55.400 atau lebih dari dua kali
lipat Indonesia.
Tidak ada jalan lain solusi bagi
permasalahan Indonesia hanya satu yakni meningkatkan keunggulan kapasitas SDM
sehingga mampu berkompetisi secara global segera ditingkatkan dengan segala
cara. Pengembangan kapasitas SDM unggul harus dimulai dari lingkungan
pembelajar pendidikan vokasi yang mencetak tenaga kerja yang langsung terjun ke
dunia kerja. Pendidikan vokasi merupakan subsistem pendidikan yang berbasiskan
keterampilan dan kebiasaan-kebiasaan yang mengarah langsung pada dunia usaha,
dinia industri dan dunia.
Para pembelajar sebagai makhluk biologis
dan fisik tidak terlepas dari konsep “Siapa yang kuat maka dialah yang menang”.
Konsep ini menuntut adanya sebuah kemajuan dan inovasi dalam produktivitas.
Pembelajar semaksimal mungkin memaksimalkan potensi manusia untuk mencapai
target-target dan mendapatkan hasil yang diinginkan dari sebuah tindakan.
Sayangnya pembelajar saat ini berada pada zaman
yang penuh gangguan. Pembunuh utama produktivitas berada pada zaman ini yaitu
diantaranya gangguan dari Media Sosial. YouTube masih menjadi media sosial
terpopuler di Tanah Air. Angka pengguna YouTube mencapai 94% dengan rentang
usia berada di kisaran 16 hingga 64 tahun. Angka tersebut dikutip
Beritasatu.com berdasarkan survei yang dilakukan GWI pada triwulan ketiga 2020.
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh
Microsoft, diketahui bahwa penggunaan media sosial seperti Youtube, Facebook,
Twitter, Instagram dan Tiktok menganggu konsentrasi dan dibutuhkan rata-rata 23
menit bagi pengguna untuk kembali fokus kepada tugas. Gangguan ini dapat
berlangsung dari beberapa menit hingga kurang dari satu jam pada awal-awal
melakukan aktivitas.
Pada masa pandemi COVID-19 ini, media
sosial sebagai penganggu produktivitas berkembang menjadi sangat besar dan
paling dominan seiring dengan penggunaan media online dalam pembelajaran jarak
jauh. Akibatnya muncul rasa malas yang sangat susah untuk dilawan dan juga
sulitnya berkonsentrasi ketika belajar, terlebih ketika para pengajar lebih
sering memberikan banyak tugas yang malah akan membuat para pembelajar semakin
bosan dan stress ketika belajar. Kondisi ini telah berlangsung lebih dari satu
tahun di Indonesia. Akibatnya kondisi ini banyak mendorong para pembelajar
sibuk sendiri di "dunia layar" (SCREEN world) pada smartphonenya
dengan kapasitas jelajahannya jauh dan lebih tak terbatas dibanding "dunia
ruang" (SPACE world).
Produktivitas dapat dimaknai sebagai output
dari suatu input. Hal tersebut menandakan bahwa seberapa banyak hasil yang
didapatkan dari apa yang telah investasikan. Ilustrasi mudahnya, jika seorang
pembelajar menginvestasikan waktu tiga jam untuk menyelesaikan satu tugas yang
seharusnya diselesaikan dalam waktu enam jam, maka secara teknis pembelajar
tersebut menjadi lebih produktif. Akan tetapi definisi tersebut lebih cocok
mengilustrasikan untuk sebuah pabrik dari pada bagi seorang individu
pembelajar, dengan meminjam definisi
yang dikembangkan Mohammed Faris (2016) dimana produktivitas adalah sebuah
proses tentang membuat pilihan yang cerdas (secara terus-menerus) dengan fokus,
energi, dan waktu Anda untuk memaksimalkan potensi Anda serta meraih hasil yang
bermanfaat.
PRODUKTIVITAS
= FOKUS X ENERGI X WAKTU
Maka seorang pembelajar yang produktif
harus memiliki tiga unsur sekaligus dalam mengelola dirinya untuk tujuan yang
bermanfaat yakni fokus, energi, dan waktu. Jika seorang pembelajar hanya
memiliki fokus dan waktu, tetapi kekurangan energi, maka pembelajar tersebut
akan merasa sangat lelah dan lesu untuk menangani tugas-tuganya. Selanjutnya,
Jika seorang pembelajar hanya memiliki banyak energi dan waktu tetapi kurang
fokus, konsentrasi pembelajar akan terus-menerus terganggu, melompat dari satu
tugas ke tugas lain, sehingga tidak bisa menyelesaikan tugas yang sedang
dihadapi. Kemudian, Jika seorang pembelajar hanya memiliki energi dan fokus,
tetapi tidak mempunyai waktu maka pembelajar tersebut juga tidak bisa
produktif. Oleh karena itu, seorang pembelajar produktif harus memiliki hasil
dari ketiga unsur tersebut.
Definisi di atas sangat membantu dengan
mudah bagi seorang pembelajar untuk melakukan evaluasi diri serta dapat
memahami mengapa dirinya menjadi tidak produktif pada saat-saat tertentu. Jika
pada saat ini seorang pembelajar menanyakan pada dirinya sendiri misalnya 'Saya
ini lesu, tidak fokus, atau terburu-buru?" maka kiat sukses untuk
produktif adalah dengan menjawab pada unsur mana saja yang harus dimaksimalkan
-fokus, energi, atau waktu- untuk meningkatkan produktivitas. Oleh karena itu
seorang pembelajar yang produktif harus memiliki kemampuan untuk meningkatkan
ketiga faktor mencapai tujuan yang bermanfaat dengan mengatur fokus, energi,
dan waktu.
Akhirnya, sangatlah tidak mudah untuk
menjadi seorang pembelajar yang produktif di tengah masa pandemi COVID-19,
butuh waktu dan kerja keras untuk menjadi produktif. Seorang pembelajar harus
selalu membuat pilihan cerdas setiap harinya, hingga kebiasaan-kebiasaan yang
bermanfaat tertanam dan sikap produktif menjadi gaya hidup. (AWK)
Sumber: http://smk.kemdikbud.go.id/konten/5047/kiat-sukses-pembelajar-produktif-pada-era-pandemi-covid-19
Yayasan Pendidikan Islam Assalam